Saturday, 7 November 2009


Kematian Sumber Kemaslahatan

Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan












"Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya(QS: al-Baqarah, 28)




Kematian adalah berpisahnya ruh dari jasad, segala sesuatu akan berhenti dari pertumbuhan, makan, minum, bernapas, berpikir dan beraktivitas. Kematian juga sebuah perpindahan kehidupan dari alam dunia ke alam barzah dan kematian termasuk musibah yang paling besar bagi umat manusia. Dizaman sekarang abad ke 21 sering kali kita menemui kematian, dimana-mana kematian selalu ada baik akibat dari kecelakaan maupun peperangan. Rasulullah Saw sebelum meninggal, beliau memperbanyak i’tikaf 20 hari dari akhir bulan Ramadhan. Begitu juga dengan salah seorang sahabat Ja’far bin Abi Thalib yang meninggal didalam perang Muktah, yang mana kedua belah tangannya terpotong, tapi perjuangan untuk mengibarkan bendera islam ia pertahankan sampai azal menjemputnya. Imam Ibnu Kasir juga mengatakan didalam bukunya Bidâyah Wa an-Nihâyah yaitu “Sesungguhnya Allah Swt telah mengganti tangan Ja’far bin Abi Thalib dengan dua sayap didalam syurga.” Abdurrahman bin ‘Auf salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga, suatu saat ia menangis dan berlinang air matanya setelah ia menyantap hidangan mewah, lalu ditanya sebabnya, maka ia menjawab “aku takut hanya yang ku nikmati didunia saja, yang akan menjadi ganjaran dari Allah SWT. Sedangkan setelah aku meninggal nanti tiada lagi.” Lalu bagaimana dengan kita?.

Maka kita harus selalu mengingat kematian, karena mengingatnya memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia. Rasulullah Saw bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (Abdu Syams sebelum islam) yang artinya “perbanyaklah mengingat hal yang menghanguskan kelezatan yang bersipat sementara, kemudian para sahabat bertanya: “apakah hal yang bisa menghancurkan kelezatan? Rasulullah Saw bersabda: dialah kematian.” Mengingat kematian membuat kita semakin berhati-hati dalam melakukan Sesuatu dan membuat tujuan hidup kita lebih konsen kepada akhirat. Didalam buku Tahzîbu al-Kamâl tertulis bahwasanya Yajid al-Raqasyi berkata kepada dirinya sendiri: “celakalah engkau wahai Yazid, siapakah yang akan menyolatkanmu ketika engkau meninggal? siapakah yang akan meridhaimu setelah meninggal? kemudian ia berkata: “hai manusia apakah engkau tidak menangis dan menyesal atas perbuatan kamu dari-umur-umur yang tersisa. siapakah yang akan menemaniku didalam kematian? kuburan sebagai rumahku, debu sebagai tempat tidurku, binatang-binatang sebagai manusia yang akan menemaniku selalu.” Kemudian ia menangis tersedu-sedu sampai terjatuh.

Abu al-‘Utahiyah mengatakan didalam syairnya yang artinya: “Hai manusia, jikalau kamu berpikir, bermuhasabah terhadap diri kamu dan dunia. Pasti kamu akan mengetahui bahwa dunia adalah sebagai jembatan yang harus dilewati menuju ke akhirat. Tidak ada kebanggaan didalamnya kecuali bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka telah menyiapkan diri untuk menghadapi kematian, dan mereka akan bahagia esok hari diakhir zaman. Aku sangat heran kepada manusia yang sombong, yang mana kesombongannya akan musnah ditelan api, kuburannya akan mengurungnya dst.” dari syair yang singkat ini bahwasanya salah satu cara untuk meninggalkan dunia adalah dengan mengingat kematian.

Agar umat manusia selalu mengingat kematian maka ada beberapa cara yang harus dilewati diantaranya: memperbanyak ziarah kubur. Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Aku pernah melarang kamu dari ziarah kubur maka (sekarang) ziarahilah kuburan, karena dalam ziarah kubur ada ‘ibrah atau pelajaran. Namun janganlah kamu mengeluarkan ucapan yang membuat tuhanmu murka.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim). Menziarahi kuburan merupakan salah satu kunci untuk mempercepat mengingat kematian dan akan mengikis kerusakan yang ada didalam hati. Ibnu Rajab pernah mengatakan didalam buku Zammu Qoswati al-Qulûb yang artinya: “Suatu saat seorang wanita mendatangi Aisyah Ra. dan berkata: “hai Aisyah Ra. bagaimanakah cara melembutkan hati yang keras?” kemudian Aisyah menjawab: “untuk melembutkan hati maka perbanyaklah mengingat kematian. Kemudian wanita tersebut berterima kasih kepada Aisyah Ra.”

Dan untuk mendekatkan hati agar lebih ingat kepada kematian, yaitu dengan menyaksikan orang-orang yang sedang ditimpa musibah dan meninggal. Karena pada suatu saat Hasan al-Bashri mengunjungi orang yang sedang sakit parah, tapi tak berapa lama orang tersebut meninggal dihadapannya. Maka pada saat Hasan al-Bahri kembali dengan muka yang sangat pucat, ahli bait menyidiakannya makanan dan minuman. Hasan al-Bashri mengatakan: ”Hai ahli bait, ambillah kembali makanan dan minuman yang telah kamu sediakan, sesungguhnya Allah Swt telah menyaksikanku, maka aku harus menghadapNya secepat mungkin.” Ini keajaiban yang telah dialami Hasan al-Bashri, setelah ia menyaksikan Sakaratu al-Maut makanan yang telah terhidangkan ia tinggalkan, untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka buah dari “tanaman” mengingat kematian pasti ia akan jauh dari maksiat dan hatinya akan lembut serta keindahan yang bersipat sementara akan ditinggalkannya, karena kematian merupakan sumber kemaslahatan.

Saya sebagai penulis mengajak seluruh pembaca dan diri saya khusunya untuk selalu mengingat kematian dengan mentadabburi beberapa pertanyaan-pertanyaan berikut: “Siapakah yang akan menjiarahi kita? siapakah yang akan mengamalkan ilmu-ilmu kita? Dan bagaimanakah akhlak anak-anak kita nantinya? sudah sanggupkah kita jikalau sekarang Allah Swt mencabut nyawa kita? Persiapan apa saja yang telah kita lakukan dalam menghadapi kematian? tidakkah kita menyadari bahwasanya hari-hari yang telah berlalu akan mendekatkan kita kepada kematian?. Kematian merupakan takdir yang pasti akan dijumpai oleh seluruh makhluk hidup dimuka bumi ini, tak terkecuali baik presiden maupun rakyat jelata semuanya akan menjumpai kematian. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama mempersiapkan amalan-amalan yang baik untuk menghadapi kematian. Sehingga kita menjadi hamba yang diridhai oleh Allah Swt. Amin.

* Penulis adalah Anggota Himpunan Mahasiswa Medan (HMM).

 

Sunday, 1 November 2009

Hati Panglima Tertinggi
Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan


















“Mengapa mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

" Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hati dalam kehidupan manusia merupakan kunci dari segala masalah. Ia yang akan merasakan pahit dan manisnya kehidupan, ketajamannya hanya bisa diasah dengan berzikir, membaca al-Quran dan berbuat amalan yang baik. Hati akan tumpul dan tidak bisa berfungsi lagi apabila ia didekatkan dengan kemaksiatan. Hati juga sebagai mahkota kehidupan yang harus kita temani dan bersihkan dengan al-Quran dan Sunnah. Dan kalimat hati juga digunakan didalam menamai salah satu surat al-Quran yaitu surat Yasin yang disebut juga Qolbu al-Quran (Hati al-Quran), bahkan seorang Aa Gym sebagai ulama yang terkenal dalam bidang hati, membuat lirik lagu yang berkenaan dengan hati, yang berbunyi sebagai berikut : “Jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini, jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati cahaya Illahi”maka untuk menjernihkan hati sebening-sebeningnya hanya dengan ilmu, iman dan cinta kepada Allah Swt melalui zikir yang khusuk.

Dan perlu kita ketahui bahwa segala anggota tubuh yang telah diciptakan Allah Swt memiliki fungsi yang berbeda-beda, seperti hati yang terletak dalam tubuh manusia, memiliki fungsi yang sangat dahsyat, menurut riset kedokteran. Bahwasanya hati dapat menghasilkan empedu (cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau kekuningan) ½ liter setiap hari, hati juga bisa menghasilkan enzim arginase yang dapat merubah arginin menjadi ornintin dan urea(suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO.), ornintin berfungsi untuk mengikat NH³ (Amonia yang berupa gas) dan CO² (karbon dioksida) yang bersifat racun. Bahkan hati bisa mengubah zat buangan dan bahan racun menjadi urin (air seni atau air kencing) kemudian disaring dalam ginjal dan dikeluarkan melalui uretra (saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh).

Maka jangan heran apabila salah seorang sahabat Rasulullah Saw (Khalid bin Walid) yang selamat dari bahaya racun, selain dari pada keimanan yang kuat, disana ada juga usaha yang dikeluarkan oleh hati. Sebagaimana yang tertulis didalam buku Ash-Hâbu ar-Rasûl, karangan Syeikh Mahmud al-Mashri Abu ‘Amar. yang menceritakan tentang kelebihan Khalid bin Walid (Saifullah atau Sword of God) bahwa ia selamat dari bahaya racun, yang diberikan oleh orang nasrani (Ibnu Buqailah). Meskipun ‘Amru bin ‘Ash telah melarangnya, namun ia enggan untuk mengikutinya sehingga ia meminumnya sambil membaca doa
"إنها لن تموت نفس حتي تأتي علي أجلها بسم الله خيرالأسماء رب الأرض والسماء الذي لايضرمع إسمه داء الرحمن الرحيم"
Kemudian ia tidak merasakan apa-apa, kecuali rasa hausnya telah hilang. Subhanallah!!.
Untuk menghindarkan hati dari perasaan dengki dan sombong yang bisa mematikan cahaya hati, sehingga kesesatan akan menghampiri kehidupan kita. Maka janganlah terlalu banyak ketawa yang berlebihan dan bicaya yang tidak bermanfaat, karena akan mengakibatkan sakit hati bagi diri kita bahkan bisa membuat orang lain tersinggung. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abdullah bin Umar yang artinya: “janganlah perbanyak perkataan tanpa berzikir kepada Allah Swt. Maka barang siapa berbicara tanpa karena Allah Swt maka hatinya akan keras seperti batu, sesungguhnya orang-orang yang paling jauh dari sisi Allah Swt adalah mereka yang hatinya keras.” Dan Allah Swt telah berfirman yang artinya: “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (Surat: At-taubah Ayat: 82) dan Syekhu al-Islam Sufyan bin ‘Uyaynah berkata : “Menangis merupakan kunci taubat, sesungguhnya tangisan juga sebagai tanda penyesalan”

Maka untuk menjernihkan hati kita menjadi lebih bersinar dan bercahaya di muka bumi Allah Swt ini, mari kita selalu menggunakan hati dengan khusuk di dalam menghadapNya. Agar semua ibadah yang kita laksanakan terasa manis, dan tidak sia-sia. Apalagi menghadapi masalah dan problem yang berat, selain menggunakan akal kedudukan hati juga sangat penting di dalam mengambil keputusan dan kesimpulan, agar kesimpulan yang kita tetapkan tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Memang kalimat hati sangat memiliki rahasia yang dalam, karena Rasulullah Saw sebagai utusan selalu berdoa kepada Allah Swt melalui hati yang tenang, sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw yang artinya “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).”Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi).
Oleh karena itu selalulah kita mendahulukan kemauan hati yang mutmainnah dan meghakhirkan kemauan jahat. Karena segala sesuatu itu akan selamat apabila hati dijadikan sebagai panglima tertinggi di dalam mengambil keputusan.

Saturday, 31 October 2009








Pemuda, Tak Kenal Lelah

Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan


Rasulullah Saw bersabda di dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Hakim yang artinya:
”Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum tuamu dan kayamu sebelum miskinmu.”

Saat mendengar kalimat pemuda, semua orang akan terbayang bahwa mereka yang memiliki semangat dan sebagai agen perubahan (agent of change) di setiap masa. Pemuda bukan saja mereka yang berumur dari 16 sampai 30 saja, sebagaimana RUU (Rancangan Undang-Undang) yang dimusyawarahkan dan ditetapkan oleh Anggota DPR, akan tetapi pemuda adalah mereka yang masih memiliki jiwa semangat untuk berkarya dan tidak mengenal lelah dalam berjuang, mereka generasi-generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Pemuda juga memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan dan memajukan Negara Republik Indonesia.

Pada masa Rasulullah Saw para pemuda memiliki semangat yang berapi-api, bahkan dapat menghanguskan dan menghancurkan maksiat-maksiat. Seluruh jiwa dan raga mereka korbankan hanya untuk mengibarkan bendera Islam. Musuh-musuh Islam berlarian pontang-panting melihat bingasnya hasrat perang mereka. Kaum qurais kehilangan strategi-strategi berlian saat menghadapi mujahid-mujahid Allah Swt. Mereka terkejut dengan kejuhudan para sahabat, yang mana di dalam pertempuran mereka menemui seorang pemuda hanya berumur 15 tahun sudah berani untuk ikut serta menumpahkan darah, dialah Usamah bin Zaid. Salah seorang sahabat yang ikut berperang dalam usia yang dini. Pada saat perang Uhud ia mengharap kepada Rasulullah Saw agar bisa ikut berjuang di medan perang, namun Rasulullah Saw tidak memberikan kesempatan baginya karena umurnya masih muda dan kecil, sehingga hatinya sedih dan merasakan kegelisahan akibat tidak bisa ikut membela Islam. Maka pada saat perang khandaq Usamah bin Zaid yang masih berumur 15 tahun sangat berharap sekali untuk ikut berjuang di dalam barisan tentara-tentara Allah Swt. Dengan keseriusan dan ketekunannya membuat Rasulullah Saw merasa kasihan dan memberikannya peluang untuk ikut bertempur. Memang semangat Usamah bin Zaid tak pernah luntur dari jiwanya, terbukti dari kesabaran yang ia jalani saat melihat dan menyaksikan dengan mata kepalanya atas pembunuhan ayahnya Zaid bin Haritsah dalam peperangan Muktah. Sedangkan pada saat perang Hunain Usamah bin Zaid adalah salah saeorang sahabat yang mengikuti perintah Rasulullah Saw, yang mana pada saat perang ini jumlah umat Islam sangat banyak dibandingkan dengan musuh, sehingga kesombongan dan keangkuhan meracuni keimanan para sahabat yang membuat barisan tentara-tentara Islam kocar-kacir. Di sela-sela inilah ia dan para sahabat lainnya (Abu Bakar as-Shiddik, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadlu bin Abbas, Rabi’ah bin Haris, Usamah bin Zaid, Aiman bin Ubaid, Abu Sufyan bin Haris, dan anak Abu Sufyan) yang masih setia mematuhi anjuran dari Rasulullah Saw. Maka sangat wajar jikalau pada saat kepemimpinan Abu Bakar as-Shiddiq ia mendapatkan amanah sebagai panglima perang untuk melakukan ekspansi ke daerah syiria.

Di dalam buku Shinâ’atu as-Syabâb bahwa ada tiga orang sahabat Rasulullah Saw yang tidak ikut perang, maka pada saat pasukan Islam kembali dari perang mereka sangat malu kepada Rasulullah Saw bahkan mereka enggan untuk bertemu dengan Rasulullah Saw dan para sahabat. Dan di dalam buku ini juga menceritakan tentang anak nabi Nuh, yang sangat susah untuk diajak mengimani Allah Swt. Nabi Nuh mengatakan didalam al-Qur’an “Irkab Ma’anâ.” Namun tetap saja anaknya menolak dengan keangkuhan, sehingga azal pun menjemput dalam kehinaan. Na’uzubillah. Semoga kita termasuk pemuda yang ideal dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita sendiri.“ Sudahkah hati kita merasakan sebagaimana yang mereka rasakan ? malukah kita saat kekeringan ilmu ? sudahkah pantas dikatakan sebagai seorang pemuda Islam yang ideal ? sampai kapankah Indonesia akan mengalami kehancuran ? apa saja yang telah aku lakukan buat agama Islam dan negara Republik Indonesia.? Maka untuk menjawab semua ini kembalikanlah kepada hati kita masing-masing dengan merenung dan mengintropeksi diri untuk menghadapi masa depan dan untuk membangun bangsa. Karena seorang pemuda apabila melakukan kebaikan jauh lebih baik dari pada orang tua yang melakukan kebaikan sebagaimana perkataan syeikh Sya’rawi “pemuda yang shaleh jauh lebih baik dari pada orang tua yang saleh”

Untuk menopang dan membangun jiwa pemuda, pondasi pertama dan yang paling harus menaburkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Jangan pernah takut menjalani kehidupan dan melewati rintangan-rintangan yang ada, tetapi anggaplah segala jurang sebagai madu yang harus diminum untuk kesehatan masa depan. Selanjutkan mari kita satukan tekad dan perjuangan untuk menguatkan barisan, sehingga langkah-langkah yang kita gerakkan tidak akan pernah retak lagi.

Persatuan seperti satu hati meskipun berbagai kelompok dan ragam kebudayaan. Suatu bangsa akan sejahtera dan tentram apabila pembinaan terhadap pemuda dan pemudi dengan rela berkorban dan semangat ruh al-Quran dan Hadist. Maka untuk mencapai semua itu marilah kita contoh baginda Rasulullah Saw, para sahabat, Ulama, dan tokoh-tokoh Indonesia terdahulu seperti bapak Budi Oetomo. Ia berani membuat gebrakan baru yang belum pernah terpikir pemuda lainnya yaitu sumpah pemuda. Penggagasan sumpah pemuda ia laksanakan bersama para pemuda dengan tekad kesatuan, bahkan ia mendesak peresiden Soekarno untuk meproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sunday, 25 October 2009


‘Ilmu’ Nyawa Kehidupan
Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan



"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (Surat: Az-Zumar, Ayat: 9)

Ilmu merupakan kebutuhan dan pondasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tak terkecuali baik yang mengabdi di pemerintahan maupun di masyarakat. Ilmu bukan saja sebagai pondasi dasar dalam kehidupan, melainkan juga sebagai alat untuk mencapai kedudukan yang lebih mulia dan dihormati oleh masyarakat. Penulis sendiri mengibaratkan ilmu bagaikan warna-warna kemuliaan, yang akan menyelimuti kehidupan manusia menuju kearah yang lebih baik.

Sejak dahulu hingga abad ke 21 ini, intelektual memiliki tempat yang khusus dalam kehidupan manusia, bahkan ia menjadi sasaran utama setiap lembaga yang ada. Seorang pengusaha yang memiliki banyak modal pasti ia sangat memerlukan seseorang yang berintelektual tinggi untuk mengelola perusahanya. Maka sangat wajar jika seseorang yang tidak memiliki ilmu akan merasakan kesusahan dalam menjalani kehidupan dan menghadapi pemasalahan yang ada.

Imam Ali ra. Berkomentar tentang pentingnya ilmu pengetahuan, ia mengatakan kepada Kamil "Hai Kamil, sesungguhnya ilmu lebih baik dari pada harta, karena ilmu yang akan menjagamu dari segala masalah sedangkan harta, ia yang akan kamu jaga. Ilmu adalah yang akan membelamumu sedangkan harta, kamu yang akan membelanya kelak. Harta bisa berkurang sedangkan ilmu ia akan bertambah jika kamu mengajarkannya." Dan Imam Ali ra juga berkata " tiada kemuliaan kecuali bagi orang-orang yang berilmu pengetahuan, sesungguhnya mereka dalam hidayah Allah SWT, ilmu pengetahuan akan menghiasi kehidupan seseorang. Orang-orang bodoh merupakan musuh bagi orang-orang pintar. Maka beramalah dengan ilmu niscaya kamu akan hidup abadi, semua manusia akan mati kecuali orang-orang yang berilmu, ia akan hidup selamanya"

Imam Syafi'I mengatakan "barang siapa yang memiliki ilmu meskipun ia hidup didalam kemiskinan niscaya ia aka merasakan kebahagiaan"
Khalifah Umar bin Khattab mengatakan "Hai manusia hendaknyalah kamu memiliki ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang berilmu, maka barang siapa yang menuntut ilmu niscaya Allah SWT akan memberinya pakaian kemuliaan"

Zubair bin Abu Bakar berkata "ayahku memberikan pesan kepadaku dengan selembar kertas yang isinya: wahai anakku, hendaklah engkau memiliki ilmu. Jikalau kamu nanti didalam keadaan susah ialah yang akan menemanimu dalam mencari harta, jikalau engkau memiliki harta yang banyak maka ilmu menjadi hiasan bagimu."

Lukman Hakim berwasiat kepada anaknya "Hai anakku, dekatilah ulama-ulama dan pelajarilah ilmu-ilmu dari mereka. Sesungguhnya Allah SWT menghidupkan cahaya hati manusia dengan cahaya ilmu, sebagaimana matahari, bulan dan bintang menyinari bumi."
Fathu al-Maushuli mengatakan "bukankah seseorang yang sakit memerlukan makanan dan obat-obatan, apabila ia tidak memakannya maka ia akan meninggal ? mereka menjawab "ia" maka sang guru memberikan nasehat "begitu jualah dengan hati, apabila ia tidak membaca dan mencari ilmu selama tiga hari maka cahayanya akan mati."
Dari perkataan-perkataan sahabat dan para ulama diatas, ilmu menjadi tujuan utama yang harus kita peroleh dan kita amalkan. Karena berapa banyak orang yang telah berhasil meraih keistimewan hanya dengan ilmu pengetahuan dan berapa banyak orang yang telah terlantar hanya tidak memiliki ilmu. Memang setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan, baik di bidang keseniaan maupun di bidang sosiologi dan politik. Semua keistimewaan tersebut hanya dapat diraih dan diperoleh dengan mahkota ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Maka marilah kita raih mahkota ilmu pengetahuan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berusaha untuk mencintai ilmu-ilmu pengetahuan, dan memulai segala sesuatu dari dalam diri kita dengan mengamalkan ilmu pengetahuan. Agar kita tidak terjerat dalam penjara kemunafikan dan kedustaan . Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya "apakah kamu menyuruh manusia kepada kebaikan dan melupakan dirimu" (Surat: al-Baqarah Ayat: 44) dan dalam syair arab mengatakan "janganlah menyuruh seseorang kepada sesuatu yang positif, kemudian kamu melupakan diri kamu, maka amat hina dirimu jika kamu melakukannya" oleh karena itu marilah kita terlebih dahulu memberikan tauladan yang baik kepada orang lain, sebelum kita mengajak mereka kepada kebaikan.

Maka saya sebagai penulis mengajak seluruh Masisir dan diri saya khususnya untuk selalu mengintropeksi diri dalam menuntut ilmu. Karena segala permasalahan yang ada di muka bumi ini akan mudah diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Dan mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berintelektual tinggi. Amin.