Monday, 5 October 2009


Berbicaralah Sebanyak Mungkin Kepada Hati

Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ [حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا]

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (HR Turmuzi dan lainnya)

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. (HR Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh)

Memang sangat mudah mengatakan kepada orang lain "kalau ada masalah lapor aja kepada Allah SWT padahal kita tidak mengetahui bahwasanya ia (orang yang sedang menjalani masalah) sangat berat untuk mengungkapkan masalahnya dan ia merasa bahwasanya semua menjadi beban. Lalu solusi seperti ini ia harus mencari dimana? Untuk mengatasi dampak-dampak seperti ini kita harus mengembalikan “ruh” kita dengan melaksanakan shalat tahajjud dengan khusuk atau berjalan-jalan kerumah yang memiliki semangat dan berkonsultasi atau curhat ke teman yang dipercayai tapi memang lebih baik dan sangat dianjurkan agama adalah curhat kepada Allah SWT. Kebanyakan orang-orang dizaman sekaran ini merasa gamang untuk menghadapi masa depan mereka padahal didalam rintanga yang dihadapai adalah modal untuk menghadapi masa atau sebuah bibit yang sedang ditanam dan tinggal menunggu tumbuh dimasa yang akan datang. Memang tidak semua orang terlalu paham apa yang aka terjadi dimasa yang akan datang, apakah mereka akan bahagia atau malah sebaliknya ? terkadang ada juga yang berpikir negatif untuk menghadapi masa depan aku ikuti arus aja. Itulah ucapan yang terlontar dari bibir mereka, sehingga kemana arus mengarah kesanalaha mereka pergi. Berarti orang-orang seperti ini menjalani kehidupan sangat sederhana dan bisa dikatakan ringan karena ia mudah terbawa oleh arus, sedangkan sesuatu yang berat maka akan susah untuk dibawa arus. Tapi sebagian manusia lagi tidak merasa seperti ini malah berusah sekuat tenaga agar masa depannya cemerlang dan tidak ketinggalan seperti orang lain. Dengan menggungakan ribuan sistem dan cara untuk menggapai masa depan yang telah diimpikan. lalu apakah masa depan itu sebenarnya didalam kerhidupan manusia ? apakah ia memang sebuah tujuan yang harus dijalani oleh semua manusia ? maka untuk menjawab ini semua tergantung apa yang telah terdetik didalam hati kita. Maka berbicaralah sebanyak mungkin kepada “Raja” kita sebuah gumpalan darah yaitu Qolbun. Sehingga kita merasa mudah untuk menjalani kehidupan kita. Tidak pernah mengeluh kepada Ilahi dan tidak akan merasakan kesulitan apabila hati kita jadikan sebagai sandaran hidup. Maka semenjak ratusan tahun Nabi kita Muhammad Saw telah bersabda dan mengingatkan kita sebagai berikut:

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati (HR. Bukhori dan Muslim)

Sunday, 4 October 2009

Kenapa Harus Berpartai ?

Oleh: Mohd. Yusuf Hasibuan

Dinamika per-politik di Indonesia mengalami progresifitas. Mengindikasikan bahwa Indonesia sudah mulai maju dan berkembang-tak tahu berkembang ke arah mana. Namun satu hal yang menjadi stumbling block(penghalang) tentang kridibilatas politikus yang masih dipertanyakan. Kebiasaan saling menggunjing satu sama lain, menjatuhkan rival politiknya dan sikut kanan kiri tak pandang bulu. Seperti biasa, bahwa politik adalah tempat pesta pora para binatang-meminjam istilah bang Iwan.

Dengan pola politik seperti ini, bisa membahayakan regenerasi putra bangsa di kemudian kelak. Maka untuk para politik, ber-politiklah dengan nurani dan jiwa besar. Jangan terlalu enak mempolitisasi semua keadaan, apalagi sampai membawa simbol keagamaan dalam berpolitik.

Karena maraknya parpol di Indonesia, sehingga dari pergolakan itu timbul bebarapa pertanyaan ; kenapa harus berpolitik?, apakah hidup ini bisa aman tanpa politik? dan pertanyaan senada lainya. Pertanyaan yang mungkin sangat sederhana, tapi penuh ibrah dan stigma positif. Ketika orang sibuk bicara politik, pasti ada banyak hal yang terlupakan selain itu. Mungkin kita tak pernah tahu, saat atau ketika kita asyik berpolitik. Berapa banyak pekerjaan negara terbengkalai, nasib sosial yang tak kunjung membaik. Berpolitik sah-sah saja, asalkan tidak melupakan sisi lainya yang lebih penting dari politik, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Tidak ada dikotomi dalam politik. Ada sebahagian mendewakan politik dan justru yang lain memposisikan politik sebagai biang keladi segala kerusuhan. Bahkan ada yang menjadikan politik mobilisasi menuju popularitas. Yang lebih parah, politik dijadikan ajang untuk mencari sesuap nasi-rela menjual harga diri. Adanya beda persepsi tentang dan guna politik, membentuk kejenuhan dan kebimbangan masyarakat. Setidaknya dalam hati mereka bertanya “ada apa dengan politik Indonesia?”. Pertanyaan menohok seperti ini justru timbul karena melihat aktivis politik yang lebih mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan semata. Bukan mengedepankan kepentingan masyarakat secara umum. Situasi seperti ini lebih nampak jelas ketika mereka menebar madu-madu janji saat masa kampanye. Dan pemandangan seperti ini sudah menjadi rahasia umum.

Kesalahan yang sangat fatal dalam politik adalah adanya penipuan publik. Dengan cara menebar janji-janji palsu saat masa kampanye. Yang dari ulah ini masyarakat dengan sendirinya membentuk opini bahwa politik memang kotor, penipu,tak berhati manusia dan segudang kejelakan lainya. Maka jangan heran ketika ada ustadz yang selama ini menjadi panutan, seketika dibenci oleh karena ikut dalam perpolitikan. Lantas, untuk apa berpartai, kalau tidak bisa mentranformasikan sebuah negara menjadi lebih makmur, aman dan sejahtera?

Kemudian yang membuat saya lebih miris, saat melihat parpol yang katanya berbasis Islam pun sama saja. Terkadang menyebar pesona besar-besaran. Kadang menggelar kegiatan yang sifatnya seperti memperhatikan ummat Islam. Seperti memperhatikan Palestina. Kegiatana ini mereka obok-obok hanya pada saat kampanye, setelah itu maka kembali parpol dengan tabiatnya yang kotor, penipu dan rakus kekuasaan.

Setelah melihat fakta dan relita lapangan tentang politik. Timbul satu pertanyaan untuk diri kita, “Haruskah kita berpolitik?”. Jawabanya kembali kepada diri kita masing-masing. Sebab para ulama telah sepakat bahwa hukum politik itu boleh. Politik itu layaknya sebilah pisau, ia akan menjadi baik jika yang punya menggunakan kepada hal-hal yang baik, misalnya ; motong cabe, bawang, dan membersihkan ikan. Namun, dengan pisau itu pula bisa memposisikan si empunya dalam dosa dan salah. Misalnya digunakan untuk membunuh orang, menggorok leher orang tak bersalah dan menikam orang.

Dunia politik sekarang ini masih banyak kekeliruan dan masih banyak permainan uang. Sehingga terjadilah cacat politik dan membuat bangsa kita semakin mundur. Bukan semakin maju. Bayangkan masih pada awal menjabat saja ia telah menyogok dengan uang, maka pada akhirnya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan uang-uang yang telah ia keluarkan.

Dunia sekarang ini, terutama di Indonesi memaksa kita untuk berpolitik. Paling tidak kita paham politik. Mau tidak mau kita harus berpolitik, namun bukan berpolitik praktis atau terjun ke dunia parpol. Perpolitikan juga ada di dunia bisnis dan perpolitikan panggung dunia.

Saya menyayangkan politik di Indonesia, kebanyakan para kader partai merasa paling benar, bahkan apabila seseorang tidak memiliki partai dikatakan tidak ingin membangun Negara. Padahal mereka berjuang untuk partai saja tidak terlalu toleransi, terkadang mereka membela matia-matian partai yang mereka geluti. Meskipun partai mereka dalam keadaan bersalah.

Masyarakat bukan hanya butuh parpol tetapi lebih mengharapkan kejujuran dari setiap aktivis partai. Bukan saling membenarkan partai-partai yang mereka dalami. Saya berharap banyak kepada aktivis partai, khususnya kader-kader partai, jangan pernah menganggap bahwa saudara-saudara kita yang belum bergelut di partai berarti tidak memikirkan bangsa.

Ingatlah bahwasanya membangun bangsa dan Negara bukan dari partai saja, bisa saja dengan ilmu dan perbuatan, serta usaha-usaha. Karena Negara kita sekarang bukan butuh partai saja, melainkan membutuhkan perekonomian yang mapan, keamanan yang terjamin.

Semoga dengan tulisan yang singkat ini, kita bisa menyatukan barisan melangkah bersama untuk memajukan bangsa kita. Jangan pernah lagi memandang perbedaan diantara kita, tapi yang harus kita munculkan adalah kaca mata persatuan dan jiwa siap membangun bangsa. Kapan pun dan dimana pun kita berada.

Tentang politik ini ada yang menjadi titik tekan dan perhatian khusus. Dunia politik tidak jauh dari ; ingin kekuasaan, saling berburuk sangka dengan lawan politik dan bisa saling dengki diantara sesama. Politik adalah daerah abu-abu, sikap kita seperti samar-samar dan tak jelas. Apakah berbuat suatu kebaikan karena Allah?, atau terselip sebuah kata ‘agar mendapat dukungan(suara)’. Untuk mereka yang sedang berpakaian politik, berhati-hatilah sebab anda di hutan rimba. Yang penuh dengan binatang buas dan semak belukar. Berpartailah, jika dengan itu anda bisa merealisasikan keadilan dengan seutuhnya.

Monday, 21 September 2009






Imam Ahmad Bin Hambal Pelita Umat
Oleh : Mohd. Yusuf Hasibuan

Nama lengkap Imam Ahmad Bin Hambal adalah Ahmad Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal al-‘udnani, As-Syibani, Al-Mawaji, Al-Baghdadi, dia adalah seorang imam besar pada masanya, dan ia telah menguasai sunnah dan alquran, beliau lahir kemuka bumi ini pada tahun 164 H। beliau telah memulai untuk menuntut ilmu bermusafir dari marwa menuju kota Baghdad dengan izin ibnya, dan disanalah ia menuntut ilmu dan mengembangkan pemikirannya demi islam, sampai ke kota kufah, madinah, Yaman, Syam, dan Makkah dll, bahkan ia berusaha mengembangkan ilmunya bukan satu tempat saja, bahkan sampai kekota turtus kemudian kembali kekota Baghdad untuk mengamalkan ilmu-ilmunya, ia merupakan pelita pada masanya yang telah menerangi muka bumi Allah SWT dengan ilmu-ilmunya dan menjadi qudwah umat islam। Beliau adalah salah satu Imam umat islam dan salah seorang pemikir ahlus sunnah wal jama’ah yang disegani.
Kemuliaan yang dimiliki imam ahmad sangat banyak mulai dari menguasai ilmu al-quran, bahkan ia menentang pemikiran-pemikiran mu’tajilah tentang al-quran termasuk makhluk atau tidak ?, maka ia mematahkan pemikiran yang melenceng ini bahwasanya al-Quran bukan sebuah makhluk melainkan ia adalah kalamullah, bahkan ia selalu membasmi kebatilan dan menegakkan kebenaran, sampai ada sebuah pepatah mengatakan bahwasanya “Khalifah Abu Bakar As-Siddik membasmi orang-orang yang murtad sedangkan Imam Ahmad bin Hambal telah mempertahankan tentang al-quran adalah kalamullah” dan kejuhudan imam Ahmad sangat kuat memperjuangkan ilmu agama dan telah berijtihad, bahkan ia termasuk salah satu imam besar Mazahibul Arba’ah, dan beliau telah mengeluarkan ratusan fatwa, ia tidak terlalu berat dalam mengambil hukum dan tidak terlalu ringan, sehingga manusia berbondong-bondong hadir untuk menuntut ilmu kepadanya, sampai ribuan murid mendatanginya dan belajar tentang ilmu agama, dengan kesemangatannya dalam mengajar membuat murid-muridnya simpatik dan tertarik untuk lebih mendalami ilmu agama, namun yang sangat disayangkan pada masa beliau menyebarkan ilmu pengetahuan sangat bertentangan dengan pemikiran yang dimiliki oleh pemerintah (khalifah Makmun pada tahun 218 H) yang mana khalifah makmun sangat mempercayai pemikiran Mu’tajilah tentang al-quran adalah makhluk, sehingga pemerintah membuat sebuah peraturan atau undang-undang, yang harus menyatakan bahwasanya al-quran adalah makhluk, maka barang siapa yang melanggar dan menentang pemikiran ini dikenakan sangsi pemenggalan kepala, penjara, dan penyiksaan। Maka Imam Ahmad bin Hambal hadir dengan hati yang tenang dan keimanan, melontarkan pendapat dan kritikan bahwasanya al-quran bukanlah makhluk melainkan al-quran adalah perkataan Allah SWT, sehingga pemerintahan Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah Makmun menghukum Imam Ahmad bin Hambal dengan penjara, namun Imam Ahmad bin Hambal tidak berputus asa dan tidak menyia-nyiakan hidupnya didalam penjara melainkan ia lebih mendekatkan diri kepada Allah dan lebih bersabar dalam menjalani hidup ini।

Imam Ahmad bin Hambal telah menjalani hidupnya didalam penjara, ia tidak melihat cahaya matahari dan sinar terbitan bulan semenjak masa kepemimpinan khalifa Makmun, Mu’tasim dan khalifah Wasiq. Ia tidak bias menatap wajah murid-muridnya melainkan ia hanya menatap besi penajara yang menemani hidupnya, meskipun ia hidup didalam penjara ia tidak pernah lupa untuk menulis dan beribadah kepada Allah SWT, maka dengan kesabaran yang tidak pernah luntur dari jiwanya membuat ia lepas dari penjara dengan pertolongan Allah SWT, sehingga Imam Ahmad bin Hambal bias kembali kepada masyarakatnya dan mengajari Ilmunya kepada murid-muridnya, yang sangat mengesankan lagi bahwasanya Imam Ahmad bin Hambal tidak hanya mengajarkan kepada murid-muridnya tentang ibadah dan bermuamat saja, melainkan ia telah menganjurkan agar melaksanakan sunnah Rasulullah dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah ada karena ilmu tanpa perbuatan bagaikan pohon tanpa buah, maka imam Ahmad menekankan bahwa ilmu pada hakekatnya adalah perbuatan, maka ilmu tanpa perbuatan dikatakan Munafiq, dan perlu kita ketahui bahwasanya Imam Ahmad bin Hambal melepas masa lajangnya pada saat berumur 40 tahun, itulah bukti kecintaan beliau kepada ilmu pengetahuan dan agama islam. Sehingga banyak para ulama memberi komenter-komentar kepadanya diantaranya “bahwasanya Imam Ahmad bin Hambal lebih menonjol dibandingkan Imam-imam lainnya”, dan syeikh Ismail bin Khalil mengatakan “ jikalau seandainya Imam Ahmad Bin Hambal hidup ditengah-tengah bani Israel maka ia akan diangkat dan dianggap sebagai nabi mereka” dan Imam Syafi’I memberi komenter yaitu “ tidak ada seorang yang lebih alim, lebih bijaksana, paling konsisten dan lebih berilmu luas dinegeri iraq ini kecuali Imam Ahmad Bin Hambal” .

Setiap manusia memiliki batas-batas waktu dalam hidup, begitu juga dengan Imam Ahmad Bin hambal, ia mengalami sakit kemudian meninggal pada tahun 214 H, dan ia menjalani kehidupan ini sepanjang 77 tahun, dan yang memandikan jenazah beliau berjumlah ratusan rakyat, sehingga orang-orang abbasiyah yang ditinggalkan merasakan kesedihan dan rindu dengan sosok Imam Ahmad, maka yang sangat mengesankan pada masa hidupnya yaitu ia telah berhasil mengajak ahlul kitab untuk memeluk agama islam sehingga puluhan ahlul kitab memeluk agama islam karena kejuhudannya. Maka tidak menjadi heran jikalau pahit manisnya kehidupan ini telah ia telan dalam kehidupan ini sampai ajaran islam berkembang pesat dimana-mana, semoga akan lahir kembali Ahmad bion Hambal abad ke 21 ini dan mudah-mudahan segala amal ibdahnya diterima oleh Allah SWT dan diberikan Jannatun Na’im kepadanya, Amin.


Universitas Al-Azhar Dan Harvard Pindah Ke Indonesia

Berangkat dari cita dan ‘mimpi’ Universitas Al Azhar dan Harvard pindah ke Indonesia. Pada kesempatan baik ini dan dalam rangka memenuhi persyaratan formal serta sebagai pertanda simbolik menduduki jabatan sebagai seorang mahasiswa, penulis mencurhatkan sebuah cita, angan-angan, atau Anda membahasakannya dengan sebuah mimpi, sebagai pengukuhan jiwa seorang akademisi. Pemilihan tajuk ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain sejarah telah mencacat tetang kehadiran peran pendidikan Islam khususnya, dalam perjuangan bangsa Indonesia, khususnya dalam ikut memajukan, mencerdaskan umat dan masyarakat, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Kedua, konstitusi negara republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar 1945 telah menempatkan keberadaan dan peran pendidikan Islam sebagai bagian tidak terpisahkan dari kebijakan politik pendidikan nasional. Tidak berlebihan kalau (secara politis) dikatakan bahwa kehadiran dan keberadaan pendidikan merupakan bagian dari andil umat Islam dalam perjuangan maupun dalam mengisi kemerdekaan.

Kalau kita lirik kembali rekaman sejarah ternyata, rakyat Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri tidak sedikit dan sudah cukup lama. Terbukti dari hasil kemerdekaan republik Indonesia; mahasiswa yang ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan dari Timur Tengah dan Belanda. Ironis sekali, jikalau ilmu yang mereka timba kita sia-siakan. Bayangkan, sudah berapa puluhan tahun kita tidak bisa bersaing dalam dunia pendidikan, hal ini cukup merugikan kita. Khususnya di segi finansial, seperti; pembayaran visa, transportasi, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya. Jadi, persoalan dunia pendidikan sebenarnya termasuk peka dan rawan. Pendidikan yang tidak didasarkan pada orientasi yang jelas dapat mengakibatkan kegagalan dalam hidup secara berantai dari generasi ke generasi.

Kehadiran lembaga pendidikan Universitas Al-azhar dan Harvard yang berkualitas tinggi dalam berbagai jenis dan jenjang pendidikan sesungguhnya sangat diharapkan oleh berbagai pihak guna mempersiapkan sumber daya manusia suatu negara untuk masa mendatang. Membuat dunia melirik kedua universitas ini. Tidak heran, orang-orang dari penjuru dunia berbondong-bondong berpacu menuntut ilmu dunia pendidikan di kedua lembaga ini. Tidak ketinggalan Indonesia sebagai negara yang miskin akan ‘ilmu’ dan kaya akan koruptor. Insyallah, semua orang mengenal atau tahu Al Azhar dan Harvard, apalagi mereka yang berasal dari kalangan pendidikan dan kaum intelek. Lantas bagaimana dengan perkembangan mutu universitas Indonesia seperti UI (Universitas Indonesia) yang berhasil membuahkan nomor urut 287, ITB (Institut Teknologi Bandung) peringkat ke 315, UGM (Universitas Gajah Mada) yang mendapat nomor urut 316 dari 500 universitas terbaik seantero dunia. Kemudian bagaimana dengan nasib universitas yang lainnya. Tidak masuk kategori ini, apakah ingin terus terkatung-katung bak sampan ditengah ombak samudera.

Kita sebagai kaum intelek bangsa yang mengemban amanah dari Allah, orang tua, bangsa dan negara, sanggupkah kita akan memindahkan keberadaan Harvard dan Al Azhar ke negeri tercinta, Indonesia? Kalau untuk memindahkan gedung universitasnya memanglah amat sulit, tapi kalau ilmu, pengetahuan sistem dan metodeologi pendidikan serta pengajaran mereka yang bagus, dikembangkan di Indonesia akan menjadi tantangan kita yang membutuhkan usaha yang sangat serius dan penuh kehati-hatian. Bayangkan jikalau generasi kita nantinya terus-menerus menuntut ilmu ke negeri orang, akan sangat membebankan mereka.

Pertanyaannya, prestasi apa yang membuat kedua lembaga pendidikan ini (baca: Universitas Al-azhar dan Harvard) begitu tersohor dalam dunia pendidikan? Kenapa mesti kedua universitas ini kita pindahkan ke Indonesia? Kapan semua ini akan terwujud? Banyak alasan dan bukti mengapa kedua lembaga pendidikan ini begitu tersohor di belahan dunia. Karena nama dan kemajuan di berbagai segi yang dialami kedua unversitas unggulan ini. Harvard adalah universitas nomor satu di dunia menguasai bidang ilmu umum, sains dan teknologi. Dan Al Azhar lembaga pendidikan yang sangat tersohor selama ribuan tahun lamanya bidang ilmu agama dan pengembangannya serta banyak melahirkan intelek-intelek yang handal hingga pada saat ini. Menjadikan ‘daya beli’ masyarakat luar tinggi walaupun biaya pendidian atau hidup di Negara itu juga tidak murah.

Indonesia harus kaya dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pengembangannya yang tangguh dan mumpuni. Bukankah kita sudah memiliki modalnya, baik yang berupa tenaga ahli maupun yang berupa kelembagaan (pondok pesanteran, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi). Selain itu banyak alumni sarjana doktoral dan majister jebolan dalam dan luar negeri bisa dimanfaatkan sebagai guru. Tentunya, dengan kebijaksaan dan pertimbangan yang mendukung kesejahteraan mereka. Baik berupa; kenaikan gaji, fasilitas dan pemenuhan kebutuhan. Kalau kita ingin menatap masa depan pendidikan yang mampu memainkan peran strategis dan diperhitungkan untuk dijadikan pilihan dunia pendidikan, maka perlu ada keterbukaan wawasan keberanian dalam memecahkan masalah-masalahnya secara mendasar dan menyeluruh, khususnya pemerintah Indonesia agar memberi komitmen yang pasti. Seperti yang berkaitan dengan: pertama, kejelasan antara yang dicita-citakan dengan langkah-langkah operasionalnya. Kedua, pemberdayaan kelembagaan yang ada dengan menata kembali sistemnya. Kegita, perbaikan pembaharuan dan pengembangan dalam sistem pengelolaan atau menajemennya. Dan keempat, peningkatan sumber daya manusia yang diperlukan.

Tentu harus diakui pula bahwa untuk semua itu dibutuhkan dana dalam jumlah yang besar, sistem pendaan ini harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan rakyat. Ini ditempuh dengan berpijak pada landasan niat dan tekat: bahwa kita bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah mewariskan sesuatu yang terbaik bagi generasi mendatang. Meskipun pada dasarnya negara kita miskin, tapi sejatinya kita harus percaya diri dan tidak mau menjadi bangsa inferior (rendah mutu atau orang bawahan) negara-negara lain.

Semua itu akan terwujud, kalau ada perencaan walau berawal dari satu cita dan mimpi. Pengembangan pendidikan bukanlah pekerjaan sedehara, karena memerlukan adanya perencanaan secara terpadu dan menyeluruh. Dalam hal ini perencaan berfungsi membantu memfokuskan pada sasaran, alokasi, dan kontinuitasnya, dan sebagai suatu proses berpikir untuk menentukan apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, siapa yang mengerjakan dan kapan dilaksanakan, maka perencanaan juga memerlukan adanya kejelasan terhadap masa dengan apa yang akan dicapai atau dijanjikan. Kalau bukan kita siapa lagi. Jujur, penulis bukanlah orang terbaik. Tapi, penulis yakin bahwa kita tentunya mempunyai satu cita yang sama dan mimpi yang sama. Kemajuan tanah air tercinta dalam segala bidang dan sendi kehidupan, terkhusus dalam bidang pendidikan. Sungguh satu kebanggaan yang dapat mengeluskan dada dengan tenang dan lega, jika bangsa Indonesia cukup menuntut ilmu dalam berbagai bidang di tanah air sendiri tanpa harus ke luar negeri.

Sepatah kata saran dan harapan penulis hadiahkan kepada semua rekan dan teman seperjuangan, terkhusus bagi pribadi penulis untuk mempersiapkan diri dari sekarang sematang-matangnya demi merajut sebuah mimpi “Universitas Al Azhar dan Harvard dan Al-azhar” terbukti pindah ke Indonesia। Kami sadari, mungkin kita merasa mustahil mewujudkan mimpi itu। Atau bahkan merasa geli mendengar mimpi ini। Tapi kita harus sama-sama menyadari bahwa perjalanan kita masih amat panjang dan banyak tantangan yang akan kita hadapi di kemudian hari। Harapan penulis, mudah-mudahan dengan tulisan yang singkat ini kita semua tergugah untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita। Karena kalau tidak, maka ‘PT’ (pekerjaan tertunda) yang akan kita hadapi, bak benang kusut yang amat sulit untuk memperbaikinya॥